Senin, 10 Desember 2018

Pengertian Langendriyan dan Langen Mandra Wanara

Pengertian Langendriyan dan Langen Mandra Wanara

Pengertian Langendriyan dan Langen Mandra Wanara



1.      Langendriyan

Kesenian Indonesia Langendriyan adalah kesenian Jawa yang berbentuk dramatari. Apabila Langendriyan dibandingkan dengan wayang orang yang juga satu bentuk drama tari, tetap memiliki perbedaan. Perbedaan itu tampak pada bentuk dialog yang digunakan. Bentuk pertunjukkan wayang orang pada umumnya menggunakan dialog antawacana (percakapan biasa) dan kadang-kadang ada sedikit tembangnya, sedangkan Langendriyan semua dialognya menggunakan tembang. Oleh karena itu, dapat disebutkan bahwa Langendriyan adalah dramatari dengan menggunakan dialog tembang, yang artinya pemeran tokoh dalam cerita langendriyan ketika berdialog menggunakan tembang macapat, yang kadang-kadang dalam satu pupuh tembang dibawakan oleh seroang saja, tetapi terkadang juga dibawakan oleh lebih dari satu orang secara bergantian.

Dialog dalam Langendriyan sangat erat kaitannya dengan nilai sastra. Jalinan ceita tercipta melalui urutan tembang sehingga memiliki nilai sastra yang sangat tinggi. Horace berpendapat bahwa sastra yang baik adalah sastra yang mempunyai fungsi dulce et utile (menyenagkan dan berguna). Dulce berarti menyenangkan karena sastra bukan sesuatu yang menjemukan, bukan suatu keborosan, tetapi kesenangan yang tidak disebabkan oleh hal-hal itu sendiri. Utile bearti ‘bermanfaat’, adalah pemberian pengetahuan-pengetahuan termasuk anjuran tentang kesusilaan sebagai pengembang dan pemerkaya pandangan hidup.


Langendriyan gaya Yogyakarta diciptakan oleh KGPA Mangkubumi, putra Sri Sultan Hamengkubuana VI. Lakon-lakon yang diceritakan dalam langendriyan gaya Yogyakarta dipetik dari Serat Damarwulan. Spesifikasi atau ciri khas Langendriyan gaya Yogyakarta adalah cara atau posisi setiap penari dalam membawakan tarianya, yaitu dengan jongkok atau berlutut, yang dalam terminologi jawa disebut jengkeng, oleh karenanya Langendriyan gaya Yogyakarta sering disebut joged jengkeng. Para penarinya campuran laki-laki dan perempuan.

Langendriyan di Surakarta pada awalnya tumbuh di Pura Mangkunegaran  pada zaman pemerintahan K.G.P.A.A Mangkunegara IV, yaitu antara tahun 1853-1881. Menurut R.M. Sayid, Langendriyan di Mangkunegaran Surakarta diciptakan oleh R.M.H. Tandhakusuma (menantu Mangkunegara IV) pada tahun 1881.  Pada dekade 1970-an, Langendriyan tampak berkembang di dalam maupun di luar Mangkunegaran. Kemudian pada tahun 1972, S. Maridi menyusun pethilan Langendriyan Menakjingga-Damarwulan yang berpijak pada gaya atau versi Mangkunegaran. Cerita Damarwulan terbagi menjadi empat episode, yaitu: Damarwulan Ngarit, Ranggalewe Gugur, Menakjingga Lena, dan Jumenenging Damarwulan Dados Ratu ing Majapahit Kagarwa Ratu Ayu.



2.      Langen Mandra Wanara

Langen Mandra Wanara merupakan sebuah seni tradisi yang hidup dan berkembang atas partisipasi masyarakat sebagaipemangku keseniannya. Langen Mandra Wanara berasal dari bahasa Jawa yaitu Langen yang berarti bersenang-senang, Mandra yang berarti banyak dan Wanara yang berarti Kera. Jadi Langen Mandra Wanara dapat diartikan sebuah seni pertunjukan yang banyak menggunakan peran kera.

Di tinjau dari sejarahnya di Tempat Kerja Langen Mandra Wanara merupakan sebuah produk kesenian hasil dari pengembangan kesenian Srandul dan Langendriya. Kedua jenis kesenian tersebut mempunyai pola budaya yang berlainan sehingga keduanya memiliki ciri dan sifat yang berbeda. Langen Mandra Wanara mempunyai fungsi sebagai sarana hiburan dan media penerangan bagi masyarakat. Bentuk awal Langen Mandra Wanara berasal dari pengembangan kesenian Srandul dan Langendriya, kesenian Langen Mandra Wanara masih mencerminkan ciri-ciri dari kedua kesenian tersebut. Srandul sebagai asal mula kesenian ini dan Langendriya sebagai pola dan konsep dasar penggarapannya.

Menurut W. Sastrowiyono, Langen Mandra Wanara diciptakan oleh almarhum K.P.H. Yudanegara III yang kemudian menjadi K.P.H.A. Danureja VII, Patih di Kasultanan Yogyakarta pada sekitar tahun 1890. Awal kemunculan Langen Mandra Wanara pada saat itu mendapat sambutan yang cukup baik di masyarakat.
Keistimewaan dari Langen Mandra Wanara adalah gerak tarinya dilakukan dengan berjongkok. Hal ini sengaja diciptakan untuk membedakan dengan bentuk tarian yang ada pada kesenian Wayang Orang. Langen Mandra Wanara dalam pementasannya mengambil cerita dari serat Ramayana. Unsur tari dalam seni pertunjukan ini sangat dominan meskipun dialog juga digunakan.

0 komentar:

Posting Komentar