Sabtu, 01 Desember 2018

Pengertian, Asal-usul, dan Perkembangan Dolalak




Tari Dolalak Purworejo


Kata Dolalak konon masyarakat Purworejo mengatakan bahwa kata Dolalak berasal darikata do la la yang itu ucapan notasi lagu diatonic yang dinyanyikan oleh serdadu Belanda dalam tangsi, yang dominan untuk mengiringi atau dinyanyikan sambil menari-nari. Ucapan do la la yaitu notasi lagu 1-6-6 , oleh orang Jawa atau masyarakat Purworejo yang dekat dengan tangsi ditirukan menjadi Ndolalak, termasuk juga meniru gerakan-gerakan erdadu Belanda dan bentuk serta motif busana yang akhirnya berbentuk kesenian rakyat Dolalak.

Asal-usul Dolalak


Kesenian   Dolalak   merupakan   salah   satu   wujud   dari   seni   tradisi kerakyatan   yang   berada   di   daerah   Purworejo.Kesenian   ini   hadir   dan berkembang ditengah-tengah masyarakat yang mempunyai keanekaragaman seni.Dari banyaknya kesenian rakyat yang ada, Dolalak merupakan kesenian yang populer dan paling banyak penggemarnya.Hal ini bisa dilihat dari masih banyaknya masyarakat yang menggunakan Dolalak dalam acara-acara tertentu, seperti suguhan dalam penyambutan tamu atau para pejabat tinggi dan bahkan sebagai  pelengkap  acara  seremonial  di  kabupaten  Purworejo  atau  hanya sekedar sebagai pentas pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan.

Dolalak sebagai salah satu karya seni, memiliki bentuk fisik yang diungkapkan  melalui  unsur  gerak,  suara,  dan  rupa.Unsur  terkuat  dalam kesenian ini adalah tarian, sedangkan suara dan rupa hanya sebagai unsur penopang saja.Latar belakang terciptanya kesenian tradisi ini berkaitan dengan masa penjajahan Belanda atas daerah Purworejo.Dahulu Purworejo disebut dengan Bagelen.Bagelen merupakan salah satu daerah bawahan Mataram yang kaya  sehingga  mampu  memberikan  kontribusi  yang  besar  pada  kerajaan melalui pembayaran pajak. Pada masa perang Diponegoro, Bagelen menjadi


salah satu medan pertempuran yang cukup besar. Daerah ini dijadikan tempat untuk bergerilya oleh pasukan Diponegoro karena kondisialam yang berbukit- bukit sehingga strategis untuk tempat pertahanan.

Wilayah Bagelen dibagi menjadi tiga setelah perang Diponegoro berakhir, wilayah tersebut yaitu Purworejo, Kutoarjo danKebumen.Pada perkembangannya Purworejo menjadi pusat karesidenan Bagelen.Padamasa itu pemerintah Belanda menduduki Purworejo dan dijadikan basis pertahanan militer  dan  asrama  bagi  serdadu  Belanda.Kegiatan  serdadu  Belanda  selain baris-berbaris, berdansa, bernyanyi, sering pula mabuk karena minuman keras. Kegiatan-kegiatan  tersebut  dilihat  oleh  masyarakat  sekitarnya  dan  pada akhirnya dengan melihattingkah laku tersebut masyarakat pribumi menirukan garak-gerik serdadu Belanda sehingga melahirkan ide.Kesenian Dolalak , berasal dari upaya  meniru gerak-gerak serdadu Belanda daridalam tangsi, atas ide dan prakarsa  yang masih bersaudara yaitu :
·    Rejotaruno

·    Duliyat

·    Ronodimejo


Kira-kira pada tahun 1915 secara, bersama ketiga santri tersebut dengan dukungan orang/warga masyarakat yang pernah menjadi serdadu Belanda membentuk kesenian Dolalak. Rejo Taruno adalah salah satu pendiri organisasi tari Dolalak yang memasukkan unsureIslam berwujud instrument rebana dan bedug  kecil,  syair  lagu  berbahasa  Arab  yang  diambil  dari  kitab  Barzanji. Duliyat  memberikan  unsure seni  Jawa  yaitu  lagu;lagu  berbahasa Jawa dan Indonesia serta instrument kendhang, sedangkan Rono Dimejo memberikan unsure tari. Kata Dolalak diambil dari ucapan/kata yang didengarnya yaitu dari notasi lagu 1,6,6.

Pada awalnya pertunjukan kesenian Dolalak tidak diringi dengan instrument, cukup dengan lagu-lagu vocal yang dinyanyikan silih berganti oleh para  penari  secara  koor.  Perkembangan  berikutnya  setelah  dikenal  dan digemari oleh masyarakat, pertunjukan Dolalak diberi instrument diberi iringan


instrument     dengan  lagu-lagu  tangsi  yang  terasa  dominan  1.6.6,  tetapi dimasukanlagu-lagu tembang jawa dan lagu-lagu shalawatan.
Sampai dengan dasawarsa ke 5 abad ke XX kesenian Dolalak hanya ditarikan oleh kaum pria dan masih terbatas pada wilayah tertentu.Memasuki dasawarsa abad ke 7 pertunjukan kesenian Dolalak sudah ditarikan oleh wanita. Dan penyebarannya sudah meluas sampai ke daerah-daerah sewilayah Purworejo.
Adapun penyebaranya dimulai dari desa Kaligono yang pada mulanya berkisar di desa setempat, terus merembes ke wilayah sekitarnya.Berangkat dariKecamatan Kaligesing, Kesenian Dolalak terus mengalami perkembangan dan sampai masuk ke dalam kota Purworejo. Bahkan di dalam kota Purworejo, Kesenian  Dolalak  menjadi  Suatu  pertunjukan  rakyat  dalam  kota  sangat digemari oleh semua lapisan masyarakat kota. Kehadiran Kesenian Dolalak di kota yang ternyata menjadi satu konsumsi hiburan menarik, dengan kondisinya yang begitu baik.

Perkembangan Dolalak


Semenjak timbulnya kesenian Dolalak sampai  dengan adanya upaya perkembangan pembaharuan saat ini, kesenian Dolalak sangat digemari oleh masyarakat. Merupakan sarana dan media pengumpulan massa, sekaligus sebagai hiburan yang sehat dan murah meriah.

Kesenian tari Dolalak ini mengalami pasang surut di antaranya disebabkan karena peristiwa Agresi Belanda II pada tahun 1949 dan pemberontakan G 30 S/PKI tahun 1965, yang mengakibatkan perkembangan dan pertumbuhan kesenian ini terhambat. Selain itu hambatan ini juga disebabkan karena banyak dari penarinya yang menyelamatkan diri dari serangan tentara Belanda yang terjadi saat itu.

Dalam perkembangan berikutnya, saat tari ini dipentaskan di Trirejo Loano,   Cokro   Sumarto,   Sastro   Sumanto,   Suprapto,   Amat   Yusro   dan Martoguno yang merupakan masyarakat Kaliharjo, tertarik dengan kesenian


ini. Sehingga mereka berniat untuk mengembangkannya di desa Kaliharjo pada tahun 1936. Dalam hal ini Cokro Sumarto dianggap sebagai pendir kesenian tari Dolalak di Desa Kaliharjo.

Pada tahun 1944 Cokro Sumarto meninggal, sehingga kesenian ini dilanjutkan oleh muridnya Martoguno. Pada masa Martoguno kesenian tari Dolalak tidak berkembang karena kondisimasyarakat pada saat itu sedang tidak stabildan terjadi pergulatan militer Belanda II 1946.Namun pada tahun
1950, kesenian ini dihidupkan kembali oleh Buati Purworejo, Soepantho yang kemudian berkemang samapi sekarang ini.

Pada tahun1976, kesenian tari Dolalak di desa Kaliharjo diteruskan oleh  Bpak  Tjipto  Wismoyo  dan  berkembang  sampai  sekarang.  Pada  masa inilah kesenian tari Dolalak berkembang sangat pesat samapi keluar Jawa.

Pada awalnya kesenian tradisi tari Dolalak ditarikan oleh penari pria dengan jumlah genap, menggunakan pola lantai berjajar dua ke belakang, dengan kualitas gerak gagah seperti adanya unsur pencak silat, berbarisdan berdansa  yang merupakan penyerapan dari budaya Belandapada masa itu. Sekitar tahun 1960-an, kesenian Dolalak mengalami penurunan dari segi kuantitas karena meletusnya PKI dan mulai bangkit lagi pada sekitar tahun
1970-an, dengan gerak yang sudah sedikit mengalami perubahan walaupun dalam segi rias wajah danbusana tetap sebelum begitu diperhatikan.Pola lantai juga masih menggunakan pola yang sederhana yaitu berjajar dua kebelakang dengan salah satu penari mengitari pasangannya.
Kehidupanorang-orang pedesaan  yang pada masa penjajahan dalam penderitaan, kehadiran kesenian Dolalak mampu memberikan hiburan. Maka perkembangan mengarah pada pembaharuan yang dilaksanakan mulai tahun
1977  dengan  memasyarakatkan  kesenian  Dolalak  lewat     jalur  penataran terhadap siswa, pelajar dan generasi muda.
Dolalak biasanya disajikan semalam suntuk yaitu antara 4 hingga 6 jam dengan jumlah penari yang banyak (tari kelompok) danpada puncak pertunjukan salah satu penarinya akan trance (mendem) yaitu adegan dimana


penari akan melakukan gerak-gerak di luar kesadarannya. Sajian Dolalak membutuhkan tempat yang luas karena berupa tari kelompok. Sajian Dolalak menampilkan beberapa jenis tarian yang tiap jenis dibedakan dengan perbedaan syair lagu yang dinyanyikan dengan jumlah 20 sampai 60 lagu dan tiap pergantian lagu berhenti sesaat sehingga ada jeda tiap ragam geraknya.
Hingga saat ini pengembangan tarian tradisional Dolalak tidak saja di kelompok  tari/grup.Pemerintah  Kabupaten  Purworejo  melalui  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melakukan pembinaan dan pelatihan hingga sekolah-sekolah di seluruh Kabupaten Purworejo.Bahkan telah dipentaskan secara massal oleh siswa pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun
2009 di Alun-alun Purworejo dan seluruh Kecamatan se-Kabupaten Purworejo dengan jumlah peserta 2.100 anak di Alun-alun dan sekitar 16.000 siswa di semua kecamatan.
Dalam perkembangan selanjutnya kabupaten Purworejo memperhatikan perkembangannya kemudian mengangkat kesenian ini lewat penataran dan seminar tentang tari dolalak.Bahkan dolalak dijadikan muatan lokal dalam pendidikan dasar.Perhatian pemerintah juga tampak dengan memberikan alat dan kostum.Sehinggakini dolalak sudah terkenal sampai di TMII yang pernah pentas di anjunganJawa Tengah.Seiring berjalannya waktu kemudian dolalak menjadi aset mata pencaharian tambahan bagi penari danpengiring group tersebut.Sebab pada musim pernikahan banyak menampilkan tari dolalak untuk meramaikannya.

0 komentar:

Posting Komentar